Etika Konten di Social Media

07 Oct 2014

Pernah ngga kamu menumpahkan uneg uneg, rasa sedih ataupun kmerahan kamu di media sosial seperti facebook atau twitter?Sebenarnya sejauh apa sih batasan-batasan yang harus kita ikuti sebelum membagikan suatu konten di media sosial?

Mungkin kamu berpendapat bahwa apapun yang ingin kamu bagikan di facebook tidak masalah karena itu adalah akun kamu. Tapi tahukah kamu, meskipun berekspresi adalah hak setiap orang, tapi jika postingan kamu sudah masuk ke internet maka postingan kamu akan dibaca semua orang. Itu karena media sosial adalah ruang publik dan ada banyak orang yang bisa membaca apa yang kamu bagikan disana.

Sama seperti hidup didunia offline, didunia maya pun kita harus mematuhi etika etika tidak tertulis, termasuk soal menyalurkan curhat atau kemarahan kamu di media sosial.

Jika kamu ingin berekspresi dengan bebas, kamu pun harus siap menanggung akibatnya, termasuk di bully karena membagikan konten maupun update status yang membuat kesal atau menyinggung hati orang lain. Mungkin kamu masih ingat dengan kejadian beberapa pengguna media sosial yang akhirnya dikecam karena postingannya? Kita bebas bereskpresi, sepanjang tidak melanggar Undang-Undang yang ada, yaitu UU ITE ((Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

Jika kamu ingin membagikan sesuatu di jejaring sosial, pikir dulu sebelum mempostingnya, apakah konten yang kamu bagikan tidak akan memberi efek yang buruk? Kita ngga harus lebay dengan membagikan semua hal di facebook. Status kamu yang bernada marah marah, atau galau setiap hari atau mengumpat dengan bahasa kasar sangat tidak enak dibaca. Bahkan bisa membuat kesan orang lain terhadap kamu jadi buruk. Kalo kira-kira bisa berakibat buruk atau menyebar aib kamu sendiri atau aib orang ain, lebih baik tidak usah di posting atau di setting private aja.