Tentang Kami
Produk
Kontak Kreasimenu

Ayo follow kita :

© PT Calpis Indonesia 2018 - All rights reserved

‘Hina Matsuri’, festival boneka yang juga merupakan ‘Hari Anak Perempuan’ di Jepang


Selasa, 19 Februari 2019 20:33 WIB


Tanggal 3 Maret selalu diperingati di Jepang sebagai Hina Matsuri atau Festival Boneka, yang juga merupakan Hari Anak Perempuan atau Girl’s Day. Ini adalah hari di mana semua orang berdoa untuk pertumbuhan dan kebahagiaan bagi seluruh anak perempuan di Jepang. Tanggal 3 Maret ini juga diperingati sebagai hari Momo no sekku (Peach Festival) karena saat ini merupakan musim bunga persik pada kalender lunar tua. Tanggal 5 Mei adalah Kodomo no hi (Children’s Day) yang disebut sebagai Festival Anak Laki-laki atau Boys Festival. Sementara Children’s Day ditetapkan sebagai hari libur nasional, Hina Matsuri tidak.

Hampir semua keluarga yang memiliki anak perempuan akan menempatkan serangkaian boneka khusus untuk perayaan Hina Matsuri yang disebut Hina-ningyo, dan mempersembahkan bunga-bunga persik untuk mereka. Boneka-boneka tersebut biasanya diatur berjajar sebanyak lima atau tujuh tingkat berjenjang dan dengan alas sebuah kain karpet berwarna merah. Di barisan paling atas adalah Kaisar dan Permaisuri. Di bawahnya merupakan tiga wanita istana (sannin-kanjo), diikuti oleh lima musisi kerajaan (gonin-bayashi), dua menteri (udaijin dan sadaijin), dan tiga pelayan di baris terbawah dari tampilan Hina-ningyo berjenjang lima. Dalam barian boneka-boneka itu juga biasanya terdapat beberapa benda lain seperti perabot kecil, makanan dan alat-alat makan kecil dan lainnya.

Boneka-boneka tersebut mengenakan kostum indah istana kuno dari periode Heian (794-1185). Kostum untuk Kaisar disebut “juuni-hitoe” (jubah upacara 12 lapis). Hingga saat ini, juuni-hitoe masih dikenakan dalam upacara pernikahan keluarga kerajaan. Yang paling baru, Putri Masakomengenakannya pada pernikahan Putra Mahkota pada tahun 1993 silam. Saat mengenakan juuni-hitoe, tatanan rambut yang harus digunakan adalah tatanan rambut yang dikumpulkan di leher untuk menggerai ke daerah punggung (subekarashi), dan sebuah kipas yang terbuat dari kayu cemara Jepang digenggam oleh tangan.


Satu set boneka tradisional ini bisa berharga sangat mahal. Ada berbagai kelas untuk satu set boneka itu, dan beberapa jenis set penuh bisa berharga lebih dari satu juta yen. Kecuali ada satu set yang diturunkan dari generasi ke generasi, kakek-nenek atau orangtua membeli satu set boneka itu untuk seorang gadis saat perayaan Hina Matsuri pertama gadis itu (hatsu-zekku). Namun, karena kebanyakan orang Jepang tinggal di rumah kecil, versi pasangan kerajaan (Kaisar dan Permaisuri) menjadi populer akhir-akhir ini. Ada sebuah takhayul yang menyebutkan jika kita tidak menyimpan boneka hina-ningyo segera setelah perayaan tanggal 3 Maret, anak gadis mereka akan mengalami pernikahan yang sangat terlambat.


 beberapa hidangan khusus untuk perayaan ini. “Hishimochi” adalah kue beras berbentuk persegi empat, dengan warna merah (atau pink), putih, dan hijau. Warna merah berguna untuk menghalau roh jahat, putih adalah untuk kemurnian, dan hijau adalah untuk kesehatan. “Chirashi-zushi”, “sakura-mochi” (kue beras berisi pasta kacang merah dengan daun ceri), “hina-arare” (permen keras dari kue beras) dan “shirozake” (sake putih) juga sering disajikan. Dari praktek Cina kuno di mana dosa tubuh dan kemalangan dialihkan kepada sebuah boneka, dan kemudian dihapuskan dengan cara meninggalkan boneka tersebut di sebuah sungai. Kebiasaan seperti itu bernama “hina-okuri” atau “nagashi-bina”, di mana orang-orang menghanyutkan boneka-boneka kertas di sungai pada sore hari tanggal 3 Maret, yang masih sering dilakukan oleh masyarakat Jepang hingga saat ini.

Sumber : https://japanesestation.com/hina-matsuri-festival-boneka-yang-juga-merupakan-hari-anak-perempuan-di-jepang/



Artikel yang lain :